Tingkatkan Produktivitas, DGL Learning Institute melalui dukungan BPDP dan Ditjenbun Bekali 187 Petani Sawit di Jambi

By MS LEMPOW 01 Sep 2026, 21:35:58 WIB PERTANIAN
Tingkatkan Produktivitas, DGL Learning Institute melalui dukungan BPDP dan Ditjenbun Bekali 187 Petani Sawit di Jambi

Keterangan Gambar : Tingkatkan Produktivitas, DGL Learning Institute melalui dukungan BPDP dan Ditjenbun Bekali 187 Petani Sawit di Jambi


Mediajambi.com – Upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi terus dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Sebanyak 187 petani kelapa sawit swadaya asal Kabupaten Batanghari mengikuti Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Tahun 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) yang dilaksanakan oleh PT Daya Guna Lestari (DGL) Learning Institute.

Kegiatan pelatihan tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Henrizal, di Aston Jambi Hotel, Selasa (1/9/2026).

Direktur Utama PT Daya Guna Lestari (DGL) Learning Institute, M Gema Aliza Putra, mengatakan pihaknya merupakan lembaga pelatihan yang secara khusus bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit.

    Menurutnya, kegiatan di Jambi tersebut menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya DGL Learning Institute melaksanakan program pelatihan bagi petani swadaya kelapa sawit di Provinsi Jambi dengan jumlah peserta mencapai 187 orang.

     “DGL Learning Institute merupakan lembaga pelatihan khusus perkebunan kelapa sawit. Ini untuk pertama kali di Jambi, ada 187 orang peserta petani swadaya kelapa sawit yang berasal dari Kabupaten Batanghari,” katanya.

    Gema menjelaskan, program tersebut pada dasarnya diarahkan untuk memberikan edukasi kepada petani agar mampu meningkatkan produktivitas kebun kelapa sawit yang dikelola secara mandiri.

    Menurutnya, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengalaman petani yang diperoleh secara turun-temurun. Petani juga membutuhkan pengetahuan teknis yang sesuai dengan perkembangan pengelolaan perkebunan modern.

     “Kami berupaya mengedukasi petani meningkatkan produktivitas kelapa sawit. Narasumber dalam pelatihan kompeten dan telah memiliki lisensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP),” ujarnya.

    Ia menambahkan, salah satu hal penting dalam program tersebut adalah memastikan materi yang diberikan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. DGL Learning Institute berencana melakukan pemantauan terhadap peserta setelah mereka kembali ke kebun masing-masing.

    Monitoring pasca pelatihan dinilai penting untuk mengetahui sejauh mana materi yang diberikan dapat diterapkan oleh petani. Selain itu, pendampingan juga dapat mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul ketika petani mulai menerapkan pengetahuan baru di lapangan.

     “Selanjutnya DGL akan terus memonitor pasca pelatihan. Dengan demikian materi yang telah diajarkan bisa dimanfaatkan dan kami bisa mengetahui apa kendala yang dihadapi peserta,” jelasnya.

    Produktivitas Masih Menjadi Tantangan

    Persoalan produktivitas menjadi perhatian utama dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Batanghari. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Batanghari, Lembang Harahap, mengatakan masih rendahnya produktivitas merupakan salah satu tantangan besar yang harus segera diatasi.

    Karena itu, ia meminta para peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan serius dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dalam mengelola kebun.

     “Yang menjadi tantangan besar adalah produktivitas masih sangat rendah. Untuk itu diharapkan kepada peserta mengikuti pelatihan ini,” katanya.

    Lembang menilai peningkatan produktivitas harus dimulai dari peningkatan pengetahuan petani. Masih terdapat sejumlah pekebun yang membutuhkan pemahaman lebih baik mengenai teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, pengelolaan kebun hingga aspek administrasi dan tata kelola perkebunan.

    Selain persoalan produktivitas, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan dalam mendorong tertib administrasi perkebunan. Salah satunya masih adanya pekebun yang belum memiliki Surat Tanda Daftar Perusahaan Perkebunan (SPDP).

    Menurut Lembang, aspek legalitas dan administrasi perkebunan menjadi semakin penting seiring dengan tuntutan tata kelola perkebunan yang berkelanjutan.

    “Selain itu juga masih banyak pekebun yang belum memiliki SPDP,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, pengembangan perkebunan ke depan juga harus terkoneksi dengan kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Karena itu, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan penerapan prinsip-prinsip perkebunan berkelanjutan.

    Lembang mengatakan persoalan yang dihadapi petani kelapa sawit di Jambi tidak semata-mata berkaitan dengan luas lahan atau kondisi tanaman. Faktor pengetahuan dan kemampuan petani dalam mengelola perkebunan juga sangat menentukan tingkat produksi.

    Menurutnya, masih kurangnya pengetahuan sebagian petani mengenai pengelolaan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penyebab produktivitas belum optimal.

    Kondisi tersebut menyebabkan produksi kebun petani di Jambi masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan sejumlah daerah lain yang telah lebih maju dalam penerapan teknik budidaya dan manajemen perkebunan.

    “Permasalahan yang dihadapi petani kelapa sawit di Provinsi Jambi masih kurangnya pengetahuan petani dalam mengelola perkebunan kelapa sawit. Sehingga produksi jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan daerah lain,” jelasnya.

    Karena itu, pelatihan SDM perkebunan dinilai memiliki posisi strategis. Petani tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga diharapkan memahami bagaimana mengubah informasi tersebut menjadi praktik yang menghasilkan peningkatan produksi.

    Lembang berharap para peserta mampu menyerap seluruh materi yang diberikan instruktur dan kemudian menerapkannya di kebun masing-masing.

     “Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan peserta dapat menyerap ilmu yang diajarkan para instruktur dan menerapkannya di lapangan nantinya,” katanya.

    Disbun Jambi Dorong Pelatihan Berorientasi Hasil

    Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Henrizal, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, peningkatan kualitas SDM petani merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit.

    Ia menilai pelatihan semacam ini tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial atau sekadar menyampaikan teori. Materi yang diperoleh petani harus mampu diterapkan dalam kegiatan sehari-hari di kebun.

     “Kami mengapresiasi terlaksananya acara ini, karena petani akan mendapatkan pelatihan dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan bukan sekadar teori,” ujarnya.

    Henrizal juga menekankan pentingnya kemampuan petani dalam memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana untuk mendapatkan informasi, memperluas pengetahuan, serta membantu petani mengikuti perkembangan terbaru di sektor perkebunan.

     “Ke depannya peserta harus paham dengan media sosial. Sehingga apa yang disampaikan instruktur dapat dicerna dengan baik,” katanya.

    Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan secara sungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.

    Menurutnya, keberhasilan program akan terlihat dari dampaknya setelah petani kembali ke kebun. Jika pengetahuan yang diperoleh mampu diterapkan dengan benar, maka pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.

    “Kami berharap peserta memanfaatkan pelatihan ini dengan sebaik-baiknya. Setelah pelatihan ini akan memberikan dampak positif bagi petani dalam meningkatkan produktivitas kelapa sawit,” ujarnya.

    Peserta Diharapkan Menjadi Agen Perubahan

    Sementara itu, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Lainnya, Iim Mucharam, yang disampaikan, Mula Putera, menekankan pentingnya pendampingan setelah kegiatan pelatihan berakhir.

    Pesan tersebut disampaikan Mula Putera melalui pertemuan secara daring. Menurutnya, keberhasilan program peningkatan kapasitas petani sangat bergantung pada kesinambungan antara pelatihan, penerapan di lapangan, dan pendampingan.

    Karena itu, instansi terkait diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Monitoring secara berkala perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan petani sekaligus membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi ketika menerapkan ilmu yang diperoleh.

    “Harapan kami kepada instansi terkait melakukan monitoring pasca pelatihan. Selanjutnya dampingi petani secara rutin sehingga produksi dapat ditingkatkan,” katanya.

    Ia juga meminta para peserta tidak menyimpan ilmu yang diperoleh hanya untuk kepentingan pribadi. Para peserta diharapkan dapat membagikan pengetahuan tersebut kepada petani lain di lingkungan masing-masing.

     “Serap ilmu yang didapatkan dan praktikkan di lapangan. Anda adalah agen yang dapat memberdayakan petani di lingkungan. Karena tidak semua petani mendapat kesempatan seperti ini,” ucapnya.

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa 187 peserta yang mengikuti pelatihan tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi juga diharapkan menjadi penggerak peningkatan kapasitas petani di lingkungan masing-masing.

    Pelatihan Berlangsung Lima Hari

    Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 tersebut dijadwalkan berlangsung selama lima hari. Selama kegiatan, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan pengelolaan perkebunan kelapa sawit dari instruktur yang memiliki kompetensi di bidangnya.

    Pelatihan diharapkan dapat menjadi titik awal perubahan pola pengelolaan kebun petani, khususnya dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan tata kelola perkebunan.

    Bagi petani swadaya, peningkatan kapasitas menjadi semakin penting karena pengelolaan kebun dilakukan secara mandiri dengan berbagai keterbatasan. Pengetahuan yang memadai dapat membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengelola tanaman dan menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

    Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi dari sejauh mana pengetahuan tersebut diterapkan dan menghasilkan perubahan nyata.

    Jika proses pelatihan diikuti dengan monitoring serta pendampingan yang berkelanjutan, program tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong peningkatan produktivitas kelapa sawit di Batanghari dan Provinsi Jambi secara lebih luas.

    Kegiatan kemudian diakhiri dengan pemberian plakat dan foto bersama antara peserta, penyelenggara, serta pihak terkait. Pelatihan selanjutnya akan dilaksanakan hingga lima hari ke depan dengan harapan seluruh peserta dapat membawa pulang pengetahuan yang dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing. (mas)




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Semua Komentar

    Tinggalkan Komentar :